You are here:

TARI COKEK SIPATMO CINA BENTENG

TARI COKEK SIPATMO CINA BENTENG

(Telah terjadi penurunan nilai-nilai / Distorsi)

narsumCina Benteng, Kota Tangerang – 27 Januari 2016 lalu, PPSW Jakarta bersama Program Peduli melaksanakan Workshop tentang Kesenian Tari Cokek yang dihadiri oleh 25 orang peserta dengan 3 orang narasumber, Bapak H. Rachmat Ruchiat (Pengamat Kesenian Tradisi, Budayawan, Sejarawan dan Guru Besar Institut Kesenian Jakarta), Ibu Julianti Parani (Penulis, Penari, Koreografer dan Dosen Luar Biasa IKJ, UI – ISI FIS), dan Ibu Dinny Dian Nurimany (Kabag Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tangerang).

Tari Cokek lahir dari perpaduan kesenian berbagai adat, khususnya adat Betawi, Banten dan Cina, serta diiringi oleh musik Gambang Kromong. Kata Cokek berasal dari Cukin (dalam bahasa Cina) yang artinya selendang. Sebelum terkenal dengan sebutan Tari Cokek, tarian ini lebih dahulu dikenal dengan sebutan Tari Sipatmo yang ditampilkan pada upacara adat di Klenteng atau Wihara. Tarian ini mengalami transformasi pada abad ke-19 menjadi tarian Cokek setelah seorang tuan tanah keturunan Tionghoa bernama Tan Sio Kek mulai sering menanggap tarian ini untuk memeriahkan pestanya, dan karena itulah Tari Cokek sangat kental dengan budaya etnik Cina.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman, Tari Cokek Cina Benteng saat ini telah mengalami perubahan nilai-nilai (distorsi). Kini penari Cokek dianggap sebagai perempuan penghibur, dan dengan menari bersama laki-laki mereka bisa mendapatkan duit (saweran). Bapak Rachmat menyampaikan bahwa zaman dahulu penari Cokek harus bisa menyanyi dan menari diiringi musik Gambang Kromong. Namun saat ini yang dilihat adalah penampilan fisiknya saja, dan tidak lagi memakai kostum yang sesuai dengan kesenian tersebut, namun menggunakan pakaian yang seronok.

Melihat kondisi diatas, selain mendatangkan pemerhati dan pelaku seni, workshop ini juga mengundang Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Tangerang juga berbagai stakeholder lainnya dengan harapan mampu bersinergi bersama untuk membangun kesepahaman bahwa diperlukan adanya Revitalisasi nilai-nilai kesenian tari cokek khas Cina Benteng, serta melestarikan dan mempromosikannya kepada masyarakat dan para stakeholder.

Peserta workshop adalah anggota Koperasi Lentera Benteng Jaya, mengungkapkan bahwa mereka ingin belajar Tari Cokek dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa Tari Cokek sebenarnya berbeda dengan penilaian masyarakat pada umumnya. Tari Cokek Sipatmo harus dilestarikan dan dipromosikan mulai dari sekarang .................

PDF 

Copyright © PPSW Jakarta 2018

Template by Ndoyz.